spacer.png, 0 kB
Our Mission
1. Generate sustainable growth
2. We need to be cost effective producers in the segment we operate
3. Maximise returns to stakeholders while contributing to local and regional socio-economic development
4. Create value through modern technology and leverage on our industry knowledge, and human resource base
TOBAPULP Sudah Tanami 55 Ribu Batang HAMINJON PDF Print Email
Written by Administrator   
Saturday, 26 July 2008

          Industri pulp Porsea, TobaPulp, benar-benar memenuhi komitmennya awal tahun lalu untuk membudidayakan haminjon (kemenyan) demi kepentingan umum dan hingga Juni 2008 sudah menanam lebih dari 55 ribu batang di areal konsesinya di kawasan Tele, kabupaten Samosir.

          Manajer HTI TobaPulp sektor Tele, Resman Marpaung, memberitahu Jumat, jumlah persis haminjon yang ditanam itu 55.478 batang di areal seluas 66,6 hektar. Dengan jarak tanam 3x4 meter maka setiap hektar dapat ditanami 833 batang.

Menurut Sarman Sidabutar, salah seorang staf Resman Marpaung, penanaman dimulai Agustus tahun lalu dan hingga akhir tahun ini diharapkan jumlahnya dapat mencapai 58 ribu batang. Arel penanaman meliputi Parlilitan (kabupaten Humbang Hasundutan) dan Tele (Samosir).

 

          Semua bibit berasal dari Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Simalungun di Aeknauli yang mengikat kerjasama haminjonisasi dengan TobaPulp. Selain meneliti haminjon, BPK  juga meneliti hampir semua jenis tanaman hutan di Sumatera Utara dan Aceh.

Terhadap haminjon BPK Aeknauli melakukan pembibitan dan pembudidayaan untuk memperoleh bibit unggul agar bisa menghasilkan getah berkualitas tinggi serta usia panen lebih cepat dari haminjon alam.  Perlakuan khusus itu berkaitan dengan posisi haminjon sebagai sumber mata pencarian petani di sekitar bumi Toba, sejak lama, serta kendalannya menjadi salah satu produk ekspor untuk jangka panjang. ”TobaPulp menargetkan penanaman di Tele 100 hektar,” kata Resman Marpaung.

Haminjon dapat dibudidayakan di hampir semua daerah berketinggian 500 hingga 2000 meter dpl (diatas permukaan laut) dan pada usia lima tahun sudah mulai dapat dipanen dua kali setahun, lebih cepat 10 tahun dari haminjon alam.

Panen perdana pada usia lima tahun dapat menghasilkan getah kering 1 ons per batang per enam bulan, pada usia 10 tahun naik menjadi 0,5 kg dan pada usia terbaik 20 tahun naik lagi menjadi 1 kg. Panen dapat dilakukan dua kali setahun.

Harga haminjon di tingkat masyarakat berkisar Rp50 ribu per kg, tetapi begitu sampai di Jawa sudah naik menjadi Rp100 ribu dan naik lagi menjadi dua hingga tiga kali lipat di tingkat industriawan parfum di Paris.

Haminjonisasi memungkinkan pembudidayaan kemenyan dan produksinya  bisa tidak terbatas sehingga produksinya, kelak, dapat meningkat menjadi lima hingga enam kali lipat. Prakarsa haminjonisasi oleh TobaPulp tidak terlepas dari konteks ini

KELAS DUNIA

Sejak lama, Humbang Hasundutan sudah dikenal sebagai penghasil utama haminjon di Indonesia. Haminjonisasi membuka peluang kawasan itu menjadi produsen kelas dunia, baik dari segi jumlah produksi maupun mutu.

Haminjon, adalah salah satu hasil hutan bukan kayu seperti halnya rotan dan damar.           Kayu ini menghasilkan getah beraroma spesifik yang diperoleh melalui pen-takik-an (penyadapan). Getahnya manjadi bahan baku penting industri parfum. Hanya di Indonesia dijadikan pula “penyedap” rasa dan bau rokok, dan bagi penganut kepercayaan tertentu asapnya yang berbau khas dijadikan alat bantu ritual.

Sumut dan Sumsel dua panghasil haminjon Indonesia. Di Sumut masih dikenal haminjon budidaya meski jumlahnya terbatas, sedangkan di Sumsel seluruhnya tumbuhan alam. Untuk mendapatkan getah, petani Sumut melakukan penyadapan, sedangkan di Sumsel penduduk memungut getah setelah tanggal dan jatuh dari bekas luka batang akibat gigitan ulat.

Tidak ada catatan pasti menganai produksi haminjon Indonesia, tetapi Sumut saja diperkirakan menghasilkan 4.000 ton per tahun, setengahnya dihasilkan Humbahas. Sebagian besar produksi itu haminjon alam dan masyarakat adalah “pemburu.”

Getah haminjon paling sohor ialah produksi Vietnam, Laos dan Myanmar dan hampir seluruhnya diserap industri parfum Eropa terutama Paris dan Prancis. Haminjon Sumatra (styrax sumatrana) juga dikenal tetapi eskpornya melalui Jawa. Hampir pasti, haminjon hasil gerakan hamijonisasi, kelak, akan dikenal sebagai ”haminjon Toba.”

Last Updated ( 2008-08-03 14:25:50 )
 
Banner
spacer.png, 0 kB